Sabtu, 28 November 2009

Mbah Gendeng dan Kontes SEO

Ternyata SEO sudah marambah secara cepat, sampe sampe sang dukun pun kini wajib mempelajari teknik yang satu ini demi kelancaran bisnis dan popularitasnya, kontes SEO yang diadakan oleh Mbah Gendeng ini adalah untuk memperingati Hari Ulang Tahunnya yang jatuh pada tanggal 21 Januari 2010


Kontes mbah gendeng blog tentang kedokteran, kejawen, kesehatan, prediksi togel dan supranatural

Oleh karena hal tersebut, baik para Master SEO atau pun para Pemula SEO semua unjuk kebolehan dalam kompitisi yang satu ini.

hehehe.... bukannya ngadain kontes Melet,.... eh malah ngadain kontes SEO.... sip sip sip....

Rabu, 25 November 2009

Hadiyatmoko Menyangkal

Sumber : Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Wakabareskrim Irjen Pol. Hadiyatmoko menyangkal keterangan Kombes Pol. Wiliardi Wizar, terdakwa kasus pembunuhan berencana Nasrudin Zulkarnaen Iskandar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (17/11).

Dalam keterangannya menyangkut terdakwa Antasari Azhar, Wiliardi seperti diungkapkan kembali oleh Hakim Ketua Herri Swantoro, Wiliardi mencabut berita acara pemeriksaan (BAP). BAP yang diakui Wiliardi hanya 29 April 2009, sedangkan BAP selebihnya bohong alias tidak benar.

Saksi mengaku memanggil Kombes Wiliardi karena adanya laporan dugaan adanya Pamen Polri yang terlibat kasus pembunuhan. Untuk mengkroscek kebenaran informasi tersebut, Wiliardi diantar Kepala Pusat Pengamanan Internal untuk menghadap saksi selaku pembina fungsi teknis.

Tujuan pemanggilan katanya untuk mengkroscek kebenaran informasi tersebut agar tidak salah dalam melakukan penyelidikan atau penyidikan. Hasilnya kata saksi, Wiliardi menyangkal informasi itu.

Sedangkan saksi M Iriawan, Mantan Direktur Reskrim Polda Metro Jaya, yang juga didengar keterangannya menyatakan dirinya tidak mengkondisikan BAP Wiliardi untuk disamakan dengan BAP Sigit Haryo Wibisono. “Tidak benar Pak Hakim. Saya tidak mengkondisikan seperti itu,” katanya.

Ditanya tim penasihat hukum terdakwa, Juniver Girsang, tentang adanya perubahan BAP yang menyebut nama Antasari Azhar, saksi menyatakan tidak mengetahui. M Iriawan yang satu angkatan dengan Kombes Wiliardi mengatakan ucapan Wiliardi itu tidak benar. Sedangkan Kasat Serse, Daniel Aritonang mengatakan penyidikan Wiliardi dilakukan dengan obyektif dan tidak direkayasa.

Kombes Wiliardi waktu itu , kata saksi, hanya mengeluh minta tolong sama Direktur Reserse dan Kriminal Umum, M. Iriawan, yang khawatir dirinya akan dipecat dan menanyakan berapa lama hukuman yang akan dijatuhkan.

“Hanya kejujuran abang yang bisa menyelamatkan. Tapi kalau kami diminta untuk menggunting kaitan Anang dengan Jerry dan Edo, kami tidak berani melakukan karena sangat bahaya,” katanya.
Atas keterangan ketiga saksi tersebut, Kombes Wiliardi menyatakan tetap pada kesaksian tertanggal 10 Nopember di muka persidangan. “Pak Hakim saya tetap dengan kesaksian semula,” katanya.

Saya Atau Dia Yang Mati....!

Sumber : Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar pernah mengatakan “Saya atau dia yang mati.”

Ucapannya itu disaksikan Budi Ibrahim, Direktur KPK dan Ina Susanti, analisis KPK dalam ruang kerja Antasari Azhar.

Hal terungkap dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana Nasrudin Zulkarnaen Iskandar menyangkut terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/11).

Guna mempertegas keterangan saksi, siapa yang dimaksud ucapan Antasari tersebut, jaksa penuntut umum lalu membacakan keterangan saksi dalam BAP. Dalam BAP yang dimaksud saya adalah Antasari sedangkan dia itu Nasrudin.

“Apakah benar demikian saudara saksi,” Tanya jaksa.

“Saya lupa Pak Hakim,” jawab saksi

Ina juga mengakui dirinya pernah dilihatkan tiga gambar yakni rumah, mobil dan seorang laki-laki dan berdampingan seorang perempuan. Melihat situasi tersebut Budi Ibrahim pernah menyarankan pada Pak Antasari supaya menghentikan penyadapan telepon Nasrudin, karena sudah capek, banyak biaya dan tidak level.

Ditanya jaksa apakah penyadapan ini masalah tugas atau pribadi, saksi mengatakan “Saya hanya melaksanakan tugas pimpinan,” jelasnya sambil menambahkan setiap ada perintah pasti diketahui oleh lima pimpinan KPK.

Di tempat terpisah, majelis hakim pimpinan Syamsudin memeriksa keterangan saksi Nuryadi, pemilik mobil Avanza B. 8870 NP. Mobil ini, kata jaksa digunakan oleh para eksekutor untuk menghabisi nyawa Nasrudin Zulkarnaen Iskandar, di Modern Land, Tangerang, 14 Maret lalu.

Menurut saksi mobilnya pernah disewakan pada seseorang bernama Heri Santosa atau sering dipanggil Bagol. Mobil tersebut, katanya untuk digunakan keperluan keluarganya.

Heri, katanya mulanya menyewa mobilnya selama 10 hari, tapi diperpanjang lagi hingga sebulan lamanya. Pria asal Klaten, Jawa Tengah tinggal di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ini mengakui pernah menerima uang sewaan mobil sebanyak Rp 5 juta.

Tapi, uang tersebut dipotong Rp 700 ribu sebagai bonus karena telah menyewa sebulan.

Belakangan mobil miliknya disita polisi lantaran terkait dengan kasus pembunuhan Nasrudin. “Mobil saya disita polisi karena digunakan para pelaku untuk kejahatan,” katanya.

Sementara itu, meski telah dipanggil kedua kali ke persidangan dalam perkara terdakwa Sigit Haryo Wibisono dan Kombes Wiliardi, empat saksi mahkota tetap saja bungkam, tidak mau memberikan kesaksian atas kasus pembunuhan Nasrudin.

Keempat saksi mahkota tersebut masing-masing Heri Santosa, Hendrikus, Daniel dan Amsy.

Majelis hakim lalu memerintahkan jaksa penuntut umum membacakan berita acara pemeriksaan (BAP). Namun, lagi-lagi empat saksi tersebut menolaknya. Alasannya, selain dia tidak pernah diperiksa dalam perkara tersebut juga mereka juga menjadi terdakwa dalam perkara ini.

Sedangkan saksi Eduardus Ndopo alias Edo dalam sidang dengan terdakwa Wiliardi Wizar mengungkapkan dirinya sempat dipukuli saat diperiksa untuk mengakui perbuatannya memerintahkan Hendrikus Kia Walen alias Hendrik untuk membunuh Nasrudin.

Edo juga diminta untuk tidak menjadi pahlawan kesiangan. “Kamu jangan jadi pahlawan kesiangan. Semua sudah kita pegang, ada anggota, ada Sigid dan di atasnya lagi ada pejabat negara, Jadi ngaku saja,” katanya mengutip kata-kata penyidik.

Namun Edo dengan tegas menyatakan dia tidak pernah menyuruh membunuh korban Nasrudin. Dia hanya memerintahkan kepada Hendrikus agar mengikuti Nasrudin. “Jadi tidak ada perintah untuk membunuh,” katanya.

Edo mengakui pernah dimintai bantuan Williardi setelah diperkenalkan oleh Jerry Hermawan Lo. “Pak Williardi memang pernah minta bantuan. Tapi bantuan itu hanya untuk mengikuti,” kata saksi mengutip keterangan terdakwa saat mereka bertemu di Ancol Februari lalu.